Hai you!

Untuk satu nama, yang baik perangainya.

Hai apakabar kamu? Ah! Mana mungkin aku tak tau bahwa saat ini kau baik-baik saja.

Tentang pagi yang kau cemaskan. Aku minta maaf karena kejujuranku selalu berbuah luka untuk ingatan lama yang mengecewa. Maaf karena aku harus lebih terbuka untuk semua kemungkinan-kemungkinan yang ada. Maaf karena aku tak bisa membohong dan mendusta untuk kau yang tak pernah menggores luka.

Jika aku dan kau tak bisa bersama, Itu murni karena takdir Tuhan yang berbicara. Bukan aku yang sengaja menjarak atau menolak keindahan yang selalu kau berikan?

Apa alasanku menolakmu? Tidak ada kurasa. Lantas? Sekali lagi aku ucapkan

Jika aku dan kau tak bisa bersama, Itu murni karena takdir Tuhan yang berbicara. Bukan aku yang sengaja menjarak atau menolak keindahan yang selalu kau berikan?

Jangan khawatir, harap kita akan selalu didengar yang Maha Kuasa. Jika bukan aku, akan ada wanita beruntung yang pasti bahagia bersanding denganmu.

Jika itu aku? Bersukacitalah, bahwa semesta turut serta menggemakan doa-doa kita.

Untuk pagi yang baru saja kau cemaskan. Jangan cemas lagi. Ketetapan Tuhan selalu lebih indah dari sangkaan Hamba-Nya. Aku percaya, bahwa yang terbaik akan selalu milik kita. Baik bersama, atau tidak selamanya.
Jakarta, 2016

Leave a Reply