Gombong, 20 November 2016 #KeluargaMaheswara

“Seseorang yang peduli dengan perasaanya akan memilih maju atau menunggu, ia tidak pernah diam saja.” – Kurniawan Gunadi.

Gombong, 20 November 2016. 00:41 WIB.

Kereta Sawunggalih mengantarmu ke kotaku. Dengan tas berisi laptop, baju dan bingkisan kue untuk Bima, kau tiba.

Hari itu kau berniat mengutarkan maksud untuk memintaku.Sendiri.

Kabar rencana kedatanganmu sudah diterima keluarga jauh-jauh hari sebelumnya. 11.00 WIB kamu sampai. Waktu yang sudah ditentukan. Ayah dan Ibuku menyapa bergantian. Maklum ya? pedagang, banyak urusan berdatangan.

Haha aku tak begitu dapat info apa yang kalian bicarakan. Seberapa gugup atau santainya kamupun aku tak tau. Karena aku tak ada. Pun dengan datangnya kandidat-kandidat setelahnya.

Apakah kamu ditanya “Untuk apa kesini?” | “Apa yang sudah dipersiapkan?” | “Apa rencanamu kedepan?” sampai “Bacaan doa ini dan itu hafal?” seperti yang sebelum-sebelumnya atau tidak? hahaha ekstreeemmm!!!! (serius ayahku pernah nanya begitu.). Aku benar-benar tidak dapat info akurat tentang hal tersebut.

Bersyukurlah, setelah kejadian keterpurukan 7 bulan lalu, ayahku jauh lebih ramah dengan kedatangan pria-pria yang memiliki niat meminangku. Alhamdulilah

“Gimana mas? Maaf ya kalo babeh aku cuek. Pasti dicuekin ya?” | “Ga kok, babeh ramah banget malah”

“AH SERIUS?” | “Ia, mas aja sampe dianter  tadi”

“AH SERIUS SIH?” | bojo meng-iyakan kembali.

“Malah ga tau kenapa pas mas sampe rumah, mas teriak nyapa mama “Assalamualaikum mah!” gitu, padahal mas juga baru sekali ketemu. Mas baru sadar hahahaha” | kau menceritakan dengan antusias.

“Mas main sama Bima, mas goda-godain” Demi apapun, kunci meluluhkan hati mamahku itu kalo mereka bisa menaklukan cucu pertamanya yang super duper itu. Fiuh~ untung suka anak-anak ya wkwkw

“Ditanya apa aja?” | “R A H A S I A”

“Ditanyain surat apa?” | “Ga ada i, emang biasanya gitu?”

“Pernah ada yang ditanyain gitu si” | “Hahahahaha alhamdulilahhh Ya Allah~”

“Kenapa?” | “Ga ditanyain hafalan untungnya, mungkin udah melas liat muka mas hahaha”

Hahaha aku tertawa. Kadang ayahku suka random kasi pertanyaan. DULU sih. Makanya aku sempet ngetes bacaan Quran dan lalalalanya kan? ya karena, agama dan akhlak itu diliat banget dikeluarga.

Jujur aku gaberani mereview. Membandingkan yang sebelum dan setelahnya datang dengan kehadiran bojo. Karena setelah bojo datang, aku dihadapkan dengan begitu banyaknya pilihan yang tak hanya satu dua. Hfiuh~ Udahlah yang penting mereka udah berjuang. Gimanapun tanggapan orangtua, itu resiko dari masing-masing pembawaan. Ga tau kenapa, akhit tahun 2016, aku lebih sering was-was. Yang aku ingat mama memberikan komentar positif tentang cara bojo berpakaian dan berbicara. Santun katanya.

Step dari 4 September itu sebenernya aku udah ancang-ancang buat istikhara. Walaupun banyak kecondongan, keraguan dan kebimbangan, toh Allah perlahan kasih jalan.

Oia. Aku merasa salah satu ibadah tersulit yang sampai detik ini begitu sulit sekali pasrah adalah SHALAT ISTIKHARA. Aku sudah diajarkan dari kelas 2 SMP dan sampai usiaku setua ini tetap saja sulit diamalkan. Prakteknya bisa sehari lebih dari 2x, tapi penerapannya?

Itu kenapa aku selalu butuh bantuan orang tua untuk turut serta mengistikharakan pilihan-pilihan dalam hidupku. Ia, untuk membantuku mengambil keputusan. Dengan keterbatasanku, dengan ridho ayah ibu, aku mantap untuk menyerahkan pilihan sesuai dengan hasil mereka.

Satu bulan setelah itu, kita memutuskan tak saling temu. Agar aku semakin netral. Pun dengan 2 bulan setelahnya. Saat itu, semakin banyak juga kandidat yang mendekat~ semakin terbuka pula perlahan demi perlahan orang yang gugur ditengah jalan.

18 -27 Januari 2017 Ayahku berangkat umroh. Keputusan kala itu memang tergantung dari hasil istihara beliau di mekkah sana. Aku hanya berharap Allah memberikan yang terbaik. Untuk dunia dan akhiratku. Untuk agama dan masa depanku.

Ah~ betapa akhir dan awal tahun itu masa-masa terberatku memberi kepastian. Betapa keraguan demi keraguan menjadi kekhawatiran tersendiri dalam menentukan langkah.

Ya Allah Yang Maha membilak-balikan hati, hanya kepadamu kami berpasrah. Dan hanya Engkaulah Maha Pemberi Arah.Berikanlah kami sebaik-baiknya pelabuhan terakhir Ya Rabb. – Intan Afiah, dalam malam-malamnya yang penuh bimbang

bersambung

Leave a Reply