Mas cepat pulang #KeluargaMaheswara

Ini bukan cerita tentang lemburnya bojo sampe tengah malam. Bukan tentang telepon yang sering berdering di jam-jam petang. Apalagi cerita tentang bang toyib yang 3x puasa 3x lebaran tak pulang-pulang wkwkwk. Ini cerita tentang hari ini. Tentang pagi tadi.

Jakarta, 25 Januari 2018. 04:35 AM.

Aku terbangun karena alarm yang cukup kencang dan berulang. Rasanya inginku pecahkan saja handphone yang terus menyala dan melemparnya ke luar jendela.

Ku dapati suamiku tak berada disisi. “Alhamdulilah, shalat dimasjid” batinku.

Beberapa menit berlalu, iqomah berbunyi, aku bergegas mengambil wudhu,kemudian shalat. Beriring dengan itu, tiba-tiba angin menelusup kencang dibalik jendela. Menggetarkan dinding-dinding kamar dan “BRAKK!!!” menutup pintu seketika.

Masih hangat diingatan, tragedi gempa dua hari lalu. Rasanya aku ingin segera menyelesaikan shalatku tapi mengapa bacaanku tak kunjung usai? Lantai 20 bukan lantai yang dangkal. Ya Allahhh ~

Angin berusaha mendobrak jendela kamar yang tertutup. Masuk ke seisi rumah dan menggoncangkan gantungan jaket dibalik pintu. Shalatku tak karuan. Bagaimana jika begini bagaimana jika begitu.

Selesai dari shalat, aku langsung bergegas lari 5 langkah dari kamar dan kudapati kunci apartemen tak menggantung di pintu masuk. “Ya Allah” kita berdua memang sering keluar apartemen dan mengunci tanpa permisi hanya agar tidurnya tak terusik, ntah untuk ke masjid atau sekedar beli sayur.

Aku lemas. . Handphone tak pernah dibawanya jika pergi ke masjid. Ya Tuhan intan takut . . .

Aku kembali ke kamar dan berisfighfar sebanyak-banyknya. Menghitung jam, memakai jaket, masih dengan mukena yang melekat.

05.10 WIB. Bojo tak kunjung pulang, aku terus melihat detikan jam yang berputar dengan teramat lambat itu.

“Mas . . . Pulanglahhh . . .”

Dua menit setelahnya “cekrekkkk”

“Assalamualaikum” I “Waalaikumusalam” l “nduk. . .” ia melihat raut muka cemas diwajahku.

Mas kenapa kunci intan?” I “tadi mas udah pamit”

Terus?” | “Tapi kamu ga bangun”

Aku merengek, “kamu takut ya?” ku sahut dengan menangguk lalu memegang tangan bojo sigap.“Ush ush ush udah gapapa, kan ada kunci di tas mas”

“Intan trauma mas, kalo gempa mana intan kepikir ada kunci di tas” bojo diam. Mengerti kelalaiannya, dan paham ketakutanku. Aku gemetaran.

“Ia lain kali mas bawa kunci sendiri ya?” Aku mengangguk lagi.

“Terus, kenapa mukenany masih dipake?” I “intan takut, ga mau tidur lagi”

“Kenapa?” I “Katanya Azab itu lebih sering datang setelah subuh dan setelah ashar” bojo diam, kemudian memintaku sandaran. Bersandar dibahunya eaaaaaa. Hayo hayo hayo! yang belum nikah jangan baper! wkwkw meski tulang ketemu tulang bukan kondisi yang menyenangkan, tapi betterlah dari pada nyandar ama pelepah pisang hahaha.

Aku menurut. “Tapi intan ngantuk i” seperti biasa, aku memasang muka inosen. Dan bojo tertawa dengan gemasnya “Gimana siii”. Kita memang masih sulit meninggalkan hal mubah yakni tidur setelah shalat subuh, meski hany 15 menit terpejam. Secara, pulang kita berdua tak kurang dari jam 10 malam, belum makan, dan beberes sampai tengah malam.

“Mau ga ngantuk?” | aku mengangguk.

“Coba cek rekening Mas, ada apa disitu?” | Mataku berbinar tanpa harus berteriak  “GAJIANNN!!!” ekspresiku sudah mewakili semuanya. Dengan sigap ku ambil handphone dan mendapati suamiku geleng-geleng kepala HAHAHAAH WANITAAAAAAA

“Gopay kamu udah mas isi juga selamam” | mataku berkaca-kaca.

“Kalo gitu, intan bisa tidur nyenyak pagi ini!” “Lho gimana sih? udah beres-beres sana” Hahahah

Adaaa aja dramanya ya kalo udah nikah. Fiuh. . .Ini kisahku pagi ini. Apa kisahmu?

Leave a Reply