Dear Adikku, . .

Teruntuk Adikku. Aku harap, kelak kau mendapatkan pendamping yang sama teduhnya seperti mama. Yang bijak dan penyayang. Yang tidak sekedar cantik paras tetapi juga hati. Yang kepada orangtua dan mertua begitu menghormati. Yang kedatangannya dinanti, dan berpisah selalu ditangisi.

Dek, mba intan berdoa, adanya pendampingmu kelak adalah memperbaiki keimananmu, menambah pahalamu dan kebahagiaanmu tentunya. Menjadi penambah sejahtera, mempererat kita dan menjadikan saling berkasih sayang.

Dek, mba intan berharap istrimu nanti adalaj istri yang pengertian, yang bisa dengan tulus sayang kepadamu, babeh dan pastinya mamah.

Kau tau? Mamah akan memendam semuanya demi kebahagiaanmu, sakit pedihnha, susah deritanya. Kau harus tau itu. Jadi dek, carilah pendamping yang dengannya mama tak pernah merasa sakit hati, mama tak harus memendam kecewanya dalam-dalam. Kasianlah, hari tua mereka sepenuhnya ada padamu.

Dek, jodoh itu tidak ada yang tau. Tak usah terlalu ngoyo dengan orang yang belum tentu menjadi akhirmu. Belajarlah lebih dewasa. Hidup itu tak seindah maumu. Pahit manis itu pasti ada, jadi jangan gegabah karena terlena pencitraan saja.

Ingat Dek, orang yang mendampingimu itu orang yang SEHARUSNYA MENAMBAH KECINTAAN KITA SATU SAMA LAIN, BUKAN MEMECAH BELAH. Hadirnya ia untukmu semakin membuat sabar perangaimu, menjadi baik akhlakmu, bukan sebaliknya. INGAT! BUKAN SEBALIKNYA.

Perempuan yang suka mengadu, perempuan yang hanya mementingkan dirinya, perempuan yang banyak cakapnya lebih banyak mudorotnya. Jauhilah! Cari yang biasa-biasa saja.

Cukuplah mama menjadi salah satu panutanmu dalam menentukan belahan jiwamu. Carilah yang menentramkan, bukan mencekamkan. Sungguh, tak ada doa selain doa kebaikan untukmu. Semoga kau sadar siapa saja orang yang dengan tulus menyayangimu. Semoga kamu bukan orang yang mudah terperdaya racun dunia.

Salam sayang,

Intan Afiah

Jakarta, 1 Maret 2018

Leave a Reply