Taaruf Part 1 #KeluargaMaheswara

Sudah satu bulan aku mencoba menetralkan perasaan. Menghilangkan keragu-raguan. Menjauhkan dari kecondongan. Meski semakin berat. Semakin banyak yang datang.

Barusan ada yang datang lagi Nduk” | “Siapa mah?”  sebut saja Alvonso.

Alvonso” | “Siapa ya?” dari kolega yang pernah mamah ceritakan, dari masa lalu yang sama-samar terdengar, tak pernah aku dengar nama itu.

Mama menjelaskan, beliau adalah salah satu alumni PTN IT di Indonesia. Bekerja di salah satu BUMN. Dia datang langsung dengan kedua orangtuanya. Yang anehnya, meski ada beberapa yang tak ku kenal, tapi sedikitnya orang tua mereka akrab betul dengan mama dan babeh, bahkan dari sekian yang datang ada 2 yang benar-benar tak ku tau wajahnya. Yang baru saja datang, aku tak kenal, kedua orangtuaku-pun.

Katanya mau taarufan sama kamu” Mendengar gelagat mamah sepertinya mama approve. Dan, anehnya saat itu, bukannya aku bersyukur dengan banyaknya pilihan yang berdatangan, toh yang kurasa justru sebaliknya.

Mah, yang namanya taaruf, datangi dulu intan. Jika memang intan setuju, baru datang ke mama dan babeh. Bukan sebaliknya”

Tapi niat mereka baik nduk”

Setidaknya kasihlah intan CV dia dulu. Siapa namanya? gimana orangnya”

Nduk! kamu harusnya bersyukur disaat orang lain tak seberuntung kamu. Kenapa kamu jadi seperti ini?” aku diam. Mama tau aku enggan. Aku salah. Astaghfirulohhhh~

Temui saja dulu dia, mama sudah beri izin untuk menemuimu di bawah lobi apartemen dengan mahramnya. Atur waktu.” Fix! bagaimana ceritanya aku benar-benar tak suka dengan cara alvonso mendatangiku.

Satu minggu kemudian

Asalamualaikum Intan, namaku Alvonso Piere Francesco. Saya berasal dari california. Sekarang saya bekerja di salah satu badan usaha milik negara.  Profesiku sama sepertimu. Saya tau kamu dari salah satu istri teman. Kemarin saya sudah kerumah dan ibu mengizinkan saya menghubungi kamu. Bla bla bla . Bli bli bli. Blu blu blu. Salam kenal” (Read bukan nama dan tepat sebenarnya)

30 menit kemudian. “Walaikumusalam, ya”

Kalo boleh tau kamu menggunakan bahasa pemrograman apa di kerjaan? kalo saya pakai HTML dan PHP saya  juga sering bla bla bla. Kalo intan bagaimana?”

satu jam kemudian “.Net“kebetulan kita abis training C# .Net jadi kujawab aja sekedarnya.

Kalo tinggal intan daerah mana ya?  saya tinggal di salah satu daerah pesisir ibu kota. Yaa jaraknya ga terlalu jauh lah dari stasiun itu. Dan lalalala lililili”

satu hari kemudian. “Jaktim

Ok sepertinya sesi perkenalan itu dulu. Saya takut terjadi fitnah diantara kita. Terima Kasih, asalamualaikum

saat itu juga. “Waalaikumusalam

Maaf, maaafff sekali. Jika kalian tau siapa aku dibalik tulisan cuap-cuap dan lalallalalala yang begitu panjang kali lebar kali tingginya di blog, berbeda 180′ ketika chat dan berhadapan dengan laki-laki yang baru kenal. C U E K! A C U H! J U D E S!

Seirus? ia serius. Karena aku capek dibilang tukang PHP sama temen-temen hahaha. Aku lelah banget dapet predikat itu dari SMP. Karena emang aku itu gampang banget akrab anaknya, tapi harus ketemu gitu. Nanti terlalu open dibilang kasi harapan, biasa aja dibilang ketus. Hffff . But, Kalo chat basically aku singkat membalas.

Maaf ya buat semuanya yang pernah aku perlakukan sama, sekali lagi bukan karena aku  marah tapi memang defaultnya gitu. Cuma bisa chat panjang kalo lagi curhat aja.

Hari berikutnya

Nduk kata Alvonso kamu di chat balesnya ogah-ogahan dan lama?” | “Kenapa emang mah?” | “Jangan gitulah, ramahlah sedikit”

Dia ngadu sama mama?” | “Bukan ngadu, tapi dia ngerasa ga bisa kenalan sama kamu gitu”

Mah semua laki-laki yang kemaren datang juga intan perlakukan sama. Dan mereka kuat-kuat aja, ga ngadu”

Nduk! mama ga suka kamu seperti itu ya.” Aku diam. Pengen nangis rasanya. Apa seperti ini orang yang mama cari? Orang yang sama sekali belum aku  lihat wajahnya? Orang yang belum datang saja membuat hubunganku tak seharmonis biasanya denganmu ma?

Maaf mah, intan mau berubah” aku menghela nafassssss. Panjaaanghh. Hffff

Pada saat-saat seperti ini aku butuh bojo sebagai teman curhat, tapi apadaya, kita sedang tidak saling sua. Aku memang jadi cukup bergantung dengan keberadaan bojo saat  itu.

Ya Allah ~mungkin aku bukanlah orang yang pandai bersyukur. Disaat orang-orang tak seberuntung aku, aku justru mengelak dengan rizki yang kau beri. Maka Ya Rabb, jangan hukum aku dengan murka-Mu. Tuntun aku Ya Rabb . . . beri aku petunjuk.

Bersambung

2 Replies to “Taaruf Part 1 #KeluargaMaheswara”

  1. Nungguin sekuel selanjutnya

    1. hhaaaaahaaa kalo taaruf aja pada semangat

Leave a Reply