Ta’aruf Part 2 #KeluargaMaheswara

Malam-malamku kian panjang. Sujudku makin tenggelam. Aku tak tau lagi kebimbangan ini justru tak kunjung padam, malah semakin menjulang. Maka Ya Rabb . . . bagaimana harus bagaimana mengusir bimbang?

3 minggu berlalu, setelah penolakan demi penolakan  untuk berjumpa, aku memutuskan untuk setuju bertemu dengan Alvonso. Minggu terakhir Januari 2017. 10.30 AM.

Dia datang dengan tante, om dan dua keponakannya. Aku temui di pelataran lobi apartemen dekat kolam renang. Malam harinya aku sudah menggebu ingin meluapkan segala emosi. Karena jujur, dengan kedatangannya, hubunganku dengan mama menjadi cukup renggang. “Yang aku tau, jodoh itu semakin mempererat, bukan menjauhkan”

Aku menyapa mereka dengan ramah, sangat ramah malah. Diluar ekspektasiku yang ingin marah-marah. Memang aku anaknya suka begini. Kesel sendiri jadinya.

Aku bercerita basa basi dengan tantenya cukup lama. Tentang pekerjaan, tentang rutinitas, tentang keseharian. Banyak. Singkat cerita, setelah aku pesankan minuman dan segala bentuk cemilan, yang tadinya aku duduk bertiga dengan tante dan alvonso, mendadak jadi berdua, karena tantenya pura-pura dapat telepon atau apalah ~

Tanpa berlama-lama, akhirnya aku merasakan moment ini. Bertanya dengan orang yang ditaarufkan. Dulu, aku anti sekali ditaarufkan. Memang ga bisa kenal dengan orang yang sehari dua hari ketemu atau sekali dua kali sapa.

“Baik, aku boleh bertanya?” | “Silahkan”

“Pulang kantor jam berapa mas?” “Saya paling malem jam setengah 8, kalo mba intan gimana?”

“Saya justru paling cepet jam segitu hahaha” | “Oh hehe”

“Kalo gitu, pengennya istri kerja ga?” | “Ya . .  mmm . . . gapapa kerja . . . mmm tapi . . .”

“Gapapa kerja juga selama kewajiban sebagai istri tidak terbengkalai?” | “Nah ia itu”

“Kalo pulang kemaleman gitu artinya ga bisa ngayomi donk ya ” | “Mmm . .”

“Ok, kalo gitu. Berarti istri ga boleh kerja kantoran ya?” | kau kikuk. Ntah apa tapi seperti bingung mau menjawab apa

“Kalo gitu mas, apa yang sudah dipersiapkan untuk istri kalo istri ga kerja kantoran?” 1 menit 2 menit 3 menit please come on jawab.

“Kesibukan apa gitu? dibikinin bisnis . .  atau  . . jadi ibu rumah tangga aja?” | “Ia mungkin ngurus anak dan suami”

“Kalo gitu aku ga bisa mas, aku anaknya aktif banget. Ok lah kalo udah ada anak mungkin ya? kalo belum?”  kau diam. Lama.

“Ok ok ga usah dibahas, sekarang tempat tinggal. Misal nih aku belum ada tempat tinggal kaya sekarang disini, kita bakal tinggal dimana?” | “m m m m .. . .  yaaa kalo cita-cita sih pasti ya? ada rumah gitu, tapi itu nanti, kalo Intan punya apartemen boleh lho ditempatin”

“Oh jadi kalo ada apartemen boleh dipake ya? oke, kalo misal belum punya? gimana?” 2 enit 4 menit 6 menit. Plis jawab  ngekos kek, ngontrak kek, beli rumah kek? mimpi aja dulu. Setidaknya punya plan. PLANN!! Come on!! Apapun aku terima kok. And . . . nothing, kamu tidak menjawab.

“Ok! misal tinggal diapartemen, kerja di jakarta pusat, bisa pulang on time. Kalo misal, istri lagi hamil, dengan kondisi KRL yang sebegitu sesaknya, alternatif lain apa ya?” 1 2 3 4 menit kau hanya senyum-senyum saja.

Bukan ini yang aku harapkan dari proses taaruf.  Tak ada satupun jawaban yang membuatku untuk bisa berkata “IYA”. Karena . . . mimpi aja ga berani. Gimana mau berumah tangga coba? Maaf nih ya? tapi setidaknya harus ada plan lah. Masa tempat tinggal aja ga di plan sih? kan mustahil kalo sampe ga kepikiran. Laki-laki lho! kalo cewek mah bisa dibilang bukan kewajiban dia ya  . . . .

Hhfffff . . . . maaf banget sebelumnya. Bukan matre. Sungguh ini bukan matrealistis sama sekali. Tapi wanita butuh RENCANA. Roundmap kita selama satu tahun pertama, dua, tiga, empat tahun? minimal mimpi aja dulu. KITA MAU NGAPAIN? Tau kalo abis nikah itu tinggal di kontrakan, atau ngekost. Plan kalo ga naik kereta pake motor istri, karena istri punyanya motor. Atau apa gitu? Bikinin istri usahan onlen? atau apalah. PLAN! Perencanaan.

Setidaknya kita tau kalo kita nikah itu ga cuma status aja.  Ga cuma bikin anak aja tapi juga membesarkan. Ga cuma biar kita terhindar dari fitnah, tapi lebih dari itu, mampu ga kita dengan sikap dan karakter yang berbeda?. Ada masa depan. Ada kehidupan didalamnya. Ada pilihan setiap harinya. Lalu? pertanyaan dasar saja kau tak berani bersua apalagi dengan keputusan-keputusan besar yang harus kau ambil?

Sehari setelahnya

“Mohon maaf mah, intan belum bisa menerima Mas Alvonso berdasarkan ini dan itu, tapi jika mama ridho. Intan pasrah” 

Aku menangis setelah menutup telepon. Betapa solat istikhara itu tak semudah yang dikira. Betapa ikhlas dan pasrah tak semudah kita mengucapnya. Ya Robbul’izzati amma yasifun . . . hamba pasrah . . .

2 Replies to “Ta’aruf Part 2 #KeluargaMaheswara”

  1. Wooohhh, jadi ini cerita lengkapnya tentang mas “alvonso” itu wkwkwk

    1. emang aku pernah cerita fa?wkwkwk

Leave a Reply