Yesrerday Is Your Last Day

Tak ada yang benar-benar menginginkan perpisahan, kecuali perpisahan itu sendiri.

Dear Bojo, yesterday is your last day.

Kurang lebih 5 tahun 5 bulan 5 hari kau habiskan setengah hidupmu di tempat itu. Tempat yang kau bilang indahnya bak sangkar emas, tempat yang kau anggap seperti rumah sendiri, yang menjadi bukti banting tulangmu hingga sanggup meminangku, tempat yang didalamnya tak hanya rekan kerja, tapi juga keluarga yang selalu ada dalam suka dan duka. Tempat yang bantal pasirnya ingin ku bawa pulang, yang kantinnya begitu kekinian dan kursi pijit yang membuatku sakit badan. Hahaha

Yesterday is your last day.

Jika banyak orang terlihat bahagia ingin cepat pergi saja, aku tak melihat perasaan itu padamu. Meski dari banyaknya foto yang Mas Victor kirim semua menunjukan tawa dan gigi-gigi besarmu. Jauh dari itu, tersimpan sesak dadamu.

Dear bojo,

Aku tau betapa sulitnya meninggalkan semua memori menahun yang tertanam. Tentang meja rapi berisi kalender, foto kita dan saklar dan kabel-kabel LANmu? tentang ruang monitoring berisi cctv, dashboard networking, grafik-grafik IT, ataupun chanel TV dengan sesekali celotehan penuh tawa diruang kaca tempatmu bekerja.

Tentang lorong-lorong tempat menyimpan big data, tentang iki dan mas yudi yang setiap hari kau cerita tingkah konyolnya. Tentang Mas Cipto teman seperjuangan, tentang Pak Ervin dengan segudang nasehatnya, Rudi dengan semangat belajar excelnya serta masih banyak lagi. Pak Toto, Pak Lucas, Mas Victor, Mba Chika, Bu Christine, Mas Yayan, Mas Agus, Mas Fariz, Sales-sales di SCBD, OB dan security dengan motor moge, bahkan Vendor-vendor dikantor.

Dan mungkin, akan jarang sepertinya aku bertanya nama tentang siapa yang sering kau bagi ceritanya, Pak Ervin, Irvin, Edwin, Eric? ah siapa lagi? Aku selalu bingung dengan nama-nama mereka wkwk

Hhhh . . . Aku pernah diposisi itu. Posisi yang cukup berat bagi seorang pekerja pada umumnya. Betapa kecemasan tentang teman baru, jarak, lingkungan, jobdesk pekerjaan semua menghantui menjadi satu. Kekhawatiran yang wajar pada umumnya. Tapi, bagi yang akan berdiam lama sepertiku, tak ada interaksi dengan sekitar? menuju bangkit tanpa menangisi keseharian yang sudah bertahun-tahun mengalami pengulangan, pastilah tak mudah.

Dear Bojo, maafkan aku yang lebih banyak tertawa dia hari kemarin. Aku tau sakitmu pasti karena kecemasan ini, yakan? ngaku sajalah hahaha. Jujur, aku tak bisa berlama-lama melihat raut mukamu yang sendu. Aku mencoba membuatmu tertawa meski benar-benar tak ada yang lucu-lucunya. Maafkan aku yang seolah memudahkan semua, tanpa mengerti betapa perpisahan itu berat adanya.

Dear Bojo,

Tadi malam sembari duduk dan bercerita kejadian yang kau lalui seharian, sejujurnya akupun tak sampai hati mendengar betapa farewellmu terkesan begitu hangat. Mereka berkumpul, foto bersama, mendoakan dan mengirim pesan tentang kagetnya keputusan yang aku sendiripun masih tak percaya bahwa berpisah adalah cara yang kau tempuh setelah panjatan doa tiap malam yang kita munajatkan tentang petunjuk sebuah pilihan.

Jika ingat bagaimana kau akan memulai pagi dengan jarak yang berkali-kali lipat dari biasa. Tak sampai hati melihat lelahnya fisikmu nanti dengan tim yang nyaris tak ada jika kau cerita kondisinya. Minimnya muslim yang kau khawatirkan.

Tak ada satu istripun yang tega melihat perjuangan suaminya mencari nafkah sebegitunya. Tapi percayalah jo, dari sini Tuhan sedang memberikan kita pelajaran. Pelajaran yang besar tak hanya untuk kita, tapi untuk orang-orang yang masih ragu akan rizki dan ketetapan-Nya.

Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar” (HR. Muslim no. 995)

Ya, bagaimana jika niat seorang suami mencari nafkah untuk keluarganya adalah pahala dan Allah menjanjikan kecukupan didalamnya? Dan niat seorang istri meninggalkan pekerjaanya demi berbakti untuk suami dan peduli terhadap masa depan anaknya, maka benar-benar Allah tangguhkan semua biayanya dari dua menjadi 1 pintu dengan jumlah yang sama?

See? Allah benar-benar melimpahkan rizkinya dan aku percaya. Ketakutanku selama ini sirna. La la! bukan terkait nominal, tapi dari sini aku yakin bahwa urusan rejeki itu ilmu TAUHID. Betapa apabila kita hanya percaya Allah-lah Maha Pemberi satu-satunya, maka tak sulit bagi-Nya mencukupkan dengan cara melipatgandakan.

Mungkin ini cara Allah menetapkan jawaban atas istikhara-istikhara panjang yang kita panjatkan. Meski terlihat tak mudah karena kau harus pindah. Meski terlihat berat dengan segala kekhawatiran yang mungkin sebenarnya tak akan kau dapat. Percayalah, dari sini ada satu pelajaran tentang Tauhid yang tak perlu diragukan. Bahwa kita hanya bisa meminta, dan Tuhanlah yang menentukan.

Aku percaya kau kuat. Dan aku percaya kita bisa melewati masa-masa transisi ini. Aku sebagai istri hanya bisa berdoa, semoga Allah tetap memudahkanku untuk bisa merawatmu dan buah hati kita setelahnya. Kita memiliki cukup banyak waktu untuk bermunajat seperti malam-malam sebelumnya. Tentang limpahan sakinah, balutan mawadah dan naungan rahmah yang menghiasai hari-hari kita kedepannya.

I feel you mas. Aku tau ini tak mudah, tapi aku percaya kamu bisa.

Selamat menyongsong hari baru. Ini hari pertamamu mencoba menerjang rute yang berseberang dari biasanya. Dengan jarak yang berkali-kali lipatnya. Semoga setiap satu putaran roda adalah pahala. Setiap lelah yang kau rasa adalah surga. Amin

Dari Istrimu yang giat berlajar masak demi ingin berat badanmu bertambah.

Intan Afiah